7 September 2010

CERITA INSPIRASI

Tokoh : Ayah Kandung

            Dalam cerita ini, saya akan menceritakan perjalan hidup ayah saya yang penuh perjuangan dan merupakan sebuah kisah nyata.

            Bukan hanya pahlawan yang terus berjuang, melainkan juga ayah saya. Abi (panggilan untukayah saya), dibesarkan dalam keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Sejak masih duduk di bangku SD, abi sudah berjualan  sambil sekolah. Bukan bekal makanan ataupun uang saku yang Abi bawa, melainkan termos berisi es. Walaupun harus berjualan di sekolah, Abi tidak pernah merasa malu dan justru merasa senang. Uang hasil berjualan es, Abi gunakan untuk membeli peralatan sekolah dan membantu ibunya membayar SPP. Selain itu, Abi dan teman-temannya pun gemar mencari ikan dan belut di sawah. Hasil tangkapannya, Abi jadikan sebagai lauk untuk makan di rumah.

            Kebiasaan Abi untuk mencari uang sendiri tidak berhenti begitu saja. Ketika duduk di bangku ST (Sekolah Teknik), abi pun kerap bekerja di pabrik gula sebagai buruh tebu. Uang yang Abi dapatkan, digunakan untuk membeli keperluan sekolah dan rumah seperti jam dinding, lampu petromax (karena dulu belum ada listrik), dan juga sepeda. Abi pun seorang murid yang cerdas sehingga sering mendapatkan beasiswa P&K dan beasiswa Supersemar.

            Setelah lulus dari ST, Abi melanjutkan pendidikannya ke STM. Di STM pun, Abi sering mendapatkan beasiswa. Selain rajin belajar, Abi adalah seorang remaja yang aktif di musholla dan berbagai organisasi remaja. Abi pun selalu membantu ayahnya untuk menggembala kambing ke sawah dan mengurus kandang. Walaupun begitu, Abi tidak pernah merasa malu melakukannya sementara remaja lain sibuk bermain dan berpacaran. Abi tidak pernah merepotkan kedua orang tuanya dalam urusan sekolah. Biaya SPP Abi cari sendiri dan setiap kali kelulusan, Abi selalu mencari sekolahnya sendiri.

            Setamatnya dari STM, Abi mendaftarkan diri ke UNS Solo dan IKIP Jogja. Namun, Abi tidak lolos. Akhirnya, Abi pun mencoba merantau ke Bogor untuk mencari pekerjaan. Ketika merantau di Bogor, Abi hanya mengenal satu orang saudara jauhnya saja yang tidak begitu ia kenal. Mengawali perantauannya di Bogor, Abi mulai bekerja sebagai tukang angkut pasir. Kemudian, Abi berganti pekerjaan sebagai buruh tekstil. Disini, Abi hanya mendapatkan upah sebesar 600 rupiah perharinya. Padahal, untuk ongkos pulang pergi dan makan siang sudah memakan biaya 350 rupiah. Namun, Abi hanya bertahan sebulan bekerja di tempat itu dan hanya dapat menabung uang sebesar 3500 rupiah.

            Setelah berhenti menjadi buruh tekstil, Abi tidak patah semangat dan terus mencari pekerjaan. Sudah berlembar-lembar surat lamaran Abi kirimkan ke berbagai perusahaan. Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, Abi pun mendapat panggilan di sebuah perusahaan produsen semen milik Jerman di daerah Citeureup. Saat itu, Abi merasa senang sekali dan langsung melaksanakan nadzarnya yaitu berjalan kaki sampai ke tempat tinggalnya di Bogor. Setelah itu, Abi menjalani beberapa tes seperti tes tertulis, lisan, dan kesehatan. Abi pun akhirnya diterima bekerja disana.

            Abi sangat giat bekerja, hingga beberapa kali mendapatkan predikat karyawan teladan dan cepat mendapatkan kenaikan pangkat. Berkat kerja keras Abi, ekonomi keluarganya di desa pun semakin meningkat. Sekarang, dari hasil kerja keras Abi, kami anak-ankanya dapat hidup serba lebih dan sejahtera. Saya pun sebagai anaknya, tidak harus merasakan betapa beratnya perjuangannya.

            Dari kisah perjalanan hidup Abi ini, kita dapat mengambil banyak hikmah. Diantaranya, untuk mencapai sesuatu yang kita cita-citakan, diperlukan usaha yang kuat dan gigih. Jangan larut dalam keputusasaan yang panjang dan bangkitlah untuk terus berusaha. Dalam melakukan sesuatu, janganlah kita bersikap minder dan malu, selama yang kita kerjakan itu adalah suatu hal yang benar. Kisah ini pun memberikan kesadaran pada kita semua, bahwa ada perbedaan antara perjuangan di zaman dahulu dan sekarang. Perjuangan di zaman dahulu, berarti ‘perjuangan’ yang sebenarnya sedangkan perjuangan di zaman sekarang berarti berjuang melawan arus globalisasi yang dapat berdampak positif ataupun negatif bagi kita.

Dan saya pun, sebagai penulis cerita ini yang juga merupakan anak kandung dari Abi, merasa sangat bangga memiliki seorang ayah yang mampu membiayai anak-anaknya kuliah di univeritas-universitas terbaik di negeri ini sampai kami berhasil. Saya pun tidak rela memboroskan uang yang Abi berikan untuk saya walaupun itu sangat berlebih, karena saya tahu mencari uang bukanlah hal yang mudah.

Maka dari itu, saya berpesan pada para pembaca, agar dapat mencontoh kerja keras seperti yang telah Abi lakukan dan bersemangatlah!!!

CERITA INSPIRASI

Tokoh : Diri Sendiri

            Kisah ini belum lama saya alami, tepatnya ketika saya mendapatkan kuliah matrikulasi PM(Pengantar Matematika). Sebenarnya, kisah ini bukanlah untuk menyombongkan diri ataupun memberi tahu kepada pembaca sekalian tentang sesuatu yang hebat dalam diri saya, melainkan hanya untuk berbagi cerita yang mungkin dapat memberikan semangat dalam rasa keputusasaan.

            Saya adalah seorang mahasiswi IPB di Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia angkatan 47. Saya mendapatkan PM sebagai kuliah matrikulasi. Pada mulanya, saya merasa sedikit kurang percaya diri saat pertama kali masuk kuliah PM. Perasaan ini saya rasakan karena saya merasa dasar pelajaran Matematika saya di SMA tidak begitu baik. Dahulu ketika SMA, saya mendapatkan guru Matematika yang kurang bisa mengajar dengan baik dan suka absen datang ke kelas. Karena pelajaran kelas satu SMA masih mudah, saya masih bisa menutupinya dengan belajar sendiri dan berdiskusi dengan teman sekelas. Namun, ternyata kami (saya dan teman sekelas saya di SMA) mendapatkan guru yang sama untuk kelas dua dan tiga. Akhirnya, pelajaran Matematika kelas kami pun banyak tertinggal dengan kelas lainnya.

            Kembali ke topik awal, saya pun merasa harus belajar lebih giat untuk bisa lebih mengerti pelajaran dan mendapatkan nilai yang terbaik dalam matrikulasi PM ini. Saya pun selalu menyempatkan diri untuk mempelajari terlebih dahulu bahan pelajaran yang akan dipelajari di kelas. Selain itu, saya juga berdiskusi dengan teman-teman di asrama untuk membahas soal yang kurang saya mengerti. Perlahan-lahan, rasa kurang percaya diri itu pun menghilang tertutupi oleh semangat saya untuk belajar. Memang, hal ini mungkin terasa sedikit melelahkan. Namun, saya tetap semangat supaya bisa lulus PM dengan nilai terbaik. Akhirnya, keinginan saya pun tercapai. Saya pun lulus PM dengan nilai B walaupun bukan nilai A seperti teman-teman yang lain.

            Belajar dari pengalaman yang sangat sederhana ini, jika kita meniatkan diri untuk bisa mendapatkan yang terbaik, kita tidak boleh berputus asa dalam berusaha. Banyak rintangan yang akan kita temui. Namun, ketika kita bisa mendapatkan yang terbaik, kita pun akan merasa puas dan bangga atas usaha-usaha yang telah kita lakukan. Tak lupa, usaha yang kuat juga harus didampingi oleh doa. Maka dari itu, teruslah berusaha dan jangan berputus asa.

Fitria Nurjanah – I 14100037 – laskar ismail marzuki (10)

Filed in Academic at 3:44 pm

no comments

HELLO ! IT’S ARFIAAA’s BLOG :D

27 July 2010

IPB BadgeIPB BadgeIPB Badge

ahn yeong haseyo !!!

FITRIA NURJANAH is here ,

mahasiswi FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

GIZI MASYARAKAT ’47

nice to meet you 😀

Filed in Academic at 1:22 am

no comments